Dhawabith Syar’iyah Budaya Masyarakat

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) adalah Partai atau organisasi yang hidup, tumbuh dan berkembang di Indonesia. Sebagaimana organisasi lain baik organisasi masa maupun organisasi politik, seperti NU, Muhmmadiyah, Masyumi dan PPP. Dengan meyakini kebenaran Islam dan memahami realitas Indonesia serta nilai Islam yang mewarnainya, maka PKS menetapkan bahwa Islam sebagai landasan organisasi dan jati dirinya. Islam menjadi landasan seluruh pemikiran, moral dan aktivitasnya, termasuk aktivitas politik. Dengan asas dan landasan Islam, PKS hadir di tengah bangsa Indonesia, berinteraksi dan bekerjasama dengan seluruh komponen bangsa Indonesia serta berbuat untuk kemaslahatan bangsa Indonesia. Dan Islam adalah rahmat (kebaikan) bagi bangsa Indonesia dan seluruh alam.

PKS sebagai Partai Islam sekaligus Partai Dakwah bertekad untuk membantu menyelesaikan problem umat dan bangsa ini. Problematika dan akumulasi masalah yang menimpa umat Islam dan bangsa Indonesia, disebabkan oleh karena masih jauhnya umat Islam dan bangsa Indonesia dari nilai-nilai Islam, kebenaran dan keadilan. Oleh karenanya, PKS berusaha memperpendek jarak antara idealitas Islam dan realitas umat Islam Indonesia. Visi PKS adalah mewujudkan masyarakat madani yang adil dan sejahtera yang diridhai Allah SWT dalam bingkai NKRI. Dalam bidang sosial budaya, PKS telah menetapkan misinya, yaitu ’Membangun kecerdasan manusia Indonesia, kesalehan sosial, dan kemajuan budaya demi mengangkat Martabat bangsa’.

Seiring dengan semakin meluasnya eksistensi dan peran PKS, bersentuhan secara langsung maupun tidak langsung dengan berbagai budaya dan tradisi yang berkembang di masyarakat. Maka timbullah problematika yang terkait dengan penyikapan dan interaksi terhadap budaya yang berkembang di Indonesia, khususnya budaya yang bersumber dari selain ajaran Islam.

Oleh karena itu, dibutuhan Dhawabith Syar’iyah (Batasan-batasan secara Syariah) tentang budaya sebagai sarana bagi kader PKS untuk memahami realitas masyarakat, menyikapi dan berinteraksi secara da’awi. Untuk mendapatkan sikap hukum yang terkait dengan masalah budaya dalam berbagai bentuknya, maka perlu dilakukan kajian terlebih dahulu terhadap berbagai nistilah yang relevan dalam Syariah antara lain istilah al-a`dah, al-urf dan budaya itu sendiri. Karena pada hakikatnya istilah-istilah tersebut saling beririsan satu dengan lainnya, maka mendudukkan istilah-istilah tersebut sebelum melakukan kajian hukumnya dianggap sangat penting mengingat, kaidah: “Menetapkan hukum terhadap sesuatu adalah bagian persepsi tentangnya” sehingga tidak terjadi kesalahan dalam menetapkan hukum akibat salah persepsi. Untuk itu dalam naskah ini, terlebih dahulu dilakukan penelitian peristilahan, kemudian hubungannya satu dengan lainnya, kondisi obyektif dalam implementasinya, batasan-batasan (dhawabith) yang harus diperhatikan terhadapnya, dan pada kesimpulannya dituangkan pula sikap yang harus diambil oleh Dewan Syariah Pusat  (DSP) PKS dalam permasalahan tersebut.  Selengkapnya silahkan …

Download : BAYAN DSP PKS NOMOR: 32/B/K/DSP-PKS/1431tentang DHAWABITH SYAR’IYAH MENGENAI BUDAYA MASYARAKAT

2 responses to “Dhawabith Syar’iyah Budaya Masyarakat

  1. barokallahu fiikum ….. up date terus berita dan tulisannya pak, kita tunggu nih …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s